Ketika Kebenaran Menjadi Asing
Berikut karya narasi–monolog puitik yang utuh dengan judul itu:
Ketika Kebenaran Menjadi Asing
Ada masa
ketika kebenaran tak lagi disambut,
ia datang seperti tamu tanpa undangan
di negeri yang lupa pada cermin.
Kebenaran berdiri di tengah keramaian,
namun suaranya kalah
oleh sorak kebohongan yang lebih menghibur.
Ia tak dipenjara,
tapi diasingkan—
ditertawakan, dicurigai,
dianggap gangguan.
Yang jujur disebut naif,
yang lurus dibilang bodoh,
yang berani mengingatkan
dituding pembuat gaduh.
Kita hidup di zaman
di mana kebohongan berpakaian rapi,
pandai berpidato,
dan punya banyak pendukung.
Sementara kebenaran
datang dengan pakaian lusuh,
membawa luka,
dan menuntut keberanian.
Orang-orang tak lagi bertanya
“apakah ini benar?”
melainkan
“apakah ini menguntungkan?”
Bukan fakta yang dicari,
tapi pembenaran.
Bukan nurani yang dipelihara,
tapi kepentingan.
Kebenaran pun belajar diam,
bukan karena ia salah,
tetapi karena dunia
tak lagi sabar mendengarnya.
Namun dengarlah—
meski asing,
kebenaran tak pernah mati.
Ia mungkin tersingkir hari ini,
tetapi selalu kembali
ketika kebohongan kelelahan
mempertahankan sandiwara.
Sebab sejarah tak menulis
siapa yang paling ramai berteriak,
melainkan
siapa yang tetap jujur
meski sendirian.
Dan pada akhirnya,
bukan kebenaran yang membutuhkan kita,
tetapi kitalah
yang akan tersesat
tanpanya.
Jika ingin:
- versi monolog narasi video
- potongan Shorts/Reels (15–30 detik)
- judul SEO + deskripsi YouTube
- atau prompt visual sinematik per paragraf
tinggal bilang, aku lanjutkan.
Comments
Post a Comment