Negeri ini hanya ingin satu:
Negeri ini hanya ingin dipeluk dengan tanggung jawab, seperti ibu memeluk anaknya tanpa hitung-hitungan untung dan rugi, tanpa niat meninggalkan saat tangisnya menjadi beban. Dipangku dengan kesungguhan, bukan disinggahi sebentar lalu dilepas ketika lelah datang. Sebab negeri ini bukan panggung, ia rumah— tempat pulang yang menuntut kesetiaan. Negeri ini ingin dicintai dengan keberanian yang sunyi: berani jujur meski sendirian, berani adil meski tak dipuji, berani menolak kecurangan meski peluang terbuka lebar. Dicintai dengan keberanian untuk berkata “cukup” pada kerakusan, dan berkata “maaf” pada luka yang terlanjur dalam. Dan dijaga— bukan dengan kata-kata yang rapi di podium atau manis di baliho, melainkan dengan perbuatan yang kotor oleh kerja, basah oleh keringat, dan letih oleh kejujuran. Dijaga saat sepi, saat sorot kamera padam, saat tak ada tepuk tangan yang menunggu di akhir kalimat. Dijaga dalam pilihan kecil, dalam keputusan harian ...